Kemiskinan di Tasikmalaya, Keluarga Ini Makan Sesuatu yang Jarang Dimakan Orang
Unesih, warga di Kampung Pasir Pari,
Ciawi, Kabupaten Tasikmalaya, menggoreng kulit singkong untuk lauk karena tak
mampu membeli bahan makanan yang lebih pantas, Kamis, 24 Agustus 2017.
(Tempo/Candra Nugraha)
Unesih, warga di Kampung Pasir Pari,
Ciawi, Kabupaten Tasikmalaya, menggoreng kulit singkong untuk lauk karena tak
mampu membeli bahan makanan yang lebih pantas, Kamis, 24 Agustus 2017.
(Tempo/Candra Nugraha).
TEMPO.CO, Tasikmalaya - Tiga keluarga
miskin yang bertempat tinggal di sebuah rumah panggung berukuran 4x6 meter di
Kampung Pasir Pari, Desa Pasir Huni, Kecamatan Ciawi, Kabupaten Tasikmalaya,
Jawa Barat, harus makan dengan lauk kulit singkong karena tak sanggup membeli
makanan yang lebih layak.
Baca juga: Sri Mulyani: Anggaran 292
Triliun untuk Atasi Kemiskinan
"Tidak punya uang untuk membeli
lauk pauk. Ini saja (kulit singkong) dimasak," kata Unesih, 63 tahun,
ketika ditemui, Kamis, 24 Agustus 2017.
Unesih tinggal bersama anak dan
cucu-cunya yang seluruhnya berjumlah 12 orang.
Mereka terpaksa tidur
berdesak-desakan karena tidak mampu dan terhimpit ekonomi.
Ada tiga keluarga yang menempati
rumah berdinding bilik yang sudah pada bolong ini. Kepala keluarga hanya
bekerja sebagai buruh tani yang penghasilannya Rp 20 ribu sampai Rp 30 ribu
sehari.
"Inginnya rumah diperbaiki, cuma
uang dari mana," kata salah seorang penghuni rumah, Asep Supriadi. Asep
berharap, pemerintah ataupun pihak lain bersedia membantunya. Dia dan keluarga
ingin sekali membangun rumah agar layak ditempati.
Untuk saat ini jangankan membangun
rumah, untuk kebutuhan sehari-hari saja mereka sudah kerepotan. Bahkan, ibunda
Asep, Unesih terpaksa memasak kulit
singkong untuk lauk pendamping nasi.
Sebelum dimasak, kulit singkong
dicuci hingga bersih. Unesih kemudian menyalakan tungku api, dan menaruh ketel
di atasnya. Setelah ketel panas dia memasukan kulit singkong dan menaburi bumbu
alakadarnya lalu memasaknya.
"Bumbunya paling pecin (vetsin),
garam. Sudah itu saja. Makannya dengan nasi," ucapnya.
Untuk membantu perekonomian sang
anak, Unesih memungut bekas batang padi yang butir padinya sudah
"digebug" pemilik. Dia mengumpulkan jerami tersebut kemudian
menggebug ulang dengan harapan ada butir padi yang belum jatuh saat proses
penggebugan pertama.
"Namanya Ngajabra (proses
pemungutan bekas jerami). Berharap masih ada padi yang masih menempel,"
kata dia. Kondisi rumah keluarga Unesih ini diperparah dengan tidak adanya
kamar mandi di dalam rumah. Jika ingin buang air kecil, mandi dan mencuci
pakaian, mereka harus pergi ke WC umum tak jauh dari rumah.
"Warga sini tidak punya WC
sendiri. Untung ada WC umum yang dibangun SMA dari Jakarta," kata Unesih.
Dia mengaku harus antre di kamar mandi umum pada pagi hari. Ini dikarenakan
banyak warga yang memakai kamar mandi tersebut.
"Harus pagi-pagi jika ingin
mencuci, jam 04.00 harus sudah di sana. Kalau tidak, harus antre. Air juga
semakin sedikit jika makin siang," kata Unesih. Salah seorang warga, Jaja,
52 tahun, mengatakan, wc umum tersebut digunakan oleh 33 keluarga.
"Hanya ada satu wc di satu
RT," katanya. Kamar mandi umum tersebut tidak dilengkapi kloset. Jika
ingin buang air besar, mereka harus berjalan 500 meter ke sebuah pancuran.
Jaja mengatakan, warga menginginkan
agar wc umum diperbanyak. Tentunya dilengkapi dengan toilet. "Pak Bupati,
datanglah ke sini. Lihat kondisi warga sini," katanya.
Sekretaris Desa Pasir Huni, Yadi
Cahyadi mengakui banyak warganya yang masuk kategori warga miskin. "Warga
tidak mampu ada 430 orang," katanya.
Ihwal rumah warga tidak layak huni,
Yadi mengatakan, tiap tahun selalu mengusulkan kepada pemerintah daerah agar
diberi bantuan untuk diperbaiki. Namun yang mendapat bantuan tidak banyak.
"Tiap tahun diusulkan. Ada 300
rumah tidak layak huni. Sudah diusulkan 280 rumah agar diperbaiki. Tapi belum
ada konfirmasi kapan keluar (bantuan)," kata dia.
Terkait warga yang tidak memiliki
kamar mandi, Yadi mengatakan, kampung Pasir Pari berada di dataran tinggi
sehingga ketersediaan air sangat minim. Air yang dipakai untuk wc umum di sana
berasal dari kampung tetangga.
"Untuk mengalirkan air ke wc
umum butuh pipa sepanjang 1,5 km," katanya. Pemerintah Desa Pasir Huni,
kata Yadi bukan tidak memprioritas pembangunan wc umum bagin warga miskin di kampung Pasir Pari. Saat ini, kata dia,
desanya sedang fokus memperbaiki infrastruktur jalan.
CANDRA NUGRAHA
Sumber: nasional.tempo.co
Belum ada Komentar untuk "Kemiskinan di Tasikmalaya, Keluarga Ini Makan Sesuatu yang Jarang Dimakan Orang"
Posting Komentar