Fakta Menarik di Balik Pemilihan Unik Panglima Besar Jenderal Soedirman
Sewaktu Tentara Sekutu, yang diwakili
oleh Inggris dengan dibuntuti oleh Belanda dibelakangnya mendarat, dan mereka
menuntut senjata Jepang kembali dari tangan kita, maka meletuslah dimana-mana
pertempuran-pertempuran baru. Dulu dengan Jepang, kini dengan Sekutu. Kita
tidak sudi menyerahkan kembali senjata yang kita rebut itu.
Pertempuran-pertempuran baru tidak hanya terjadi di Jakarta dan sekitarnya,
tetapi juga di Semarang, dan yang terbesar serta paling lama adalah di kota
Surabaya, dari 28 hingga 30 Oktober 1945, dan dari 10 hingga 30 Nopember 1945.
Soedirman yang pada waktu itu diangkat oleh Pemerintah sebagai Panglima Divisi
Sunan Gunung Jati atau Divisi V, dan yang bertanggungjawab untuk daerah
Banyumas dan Kedu, menghadapi juga serangan-serangan Inggris yang datang dari
jurusan Semarang menuju ke Ambarawa dan Banyubiru. Berkat semangat kepemimpinan
Soedirman tentara Inggris dapat dienyahkan. Dalam suasana demikian itulah
Kolonel Soedirman dipilih sebagai Panglima Besar. Yang memilih adalah para Panglima
Divisi dan Komandan Resimen yang berkumpul di Yogyakarta pada tanggal 12
Nopember 1945. Pangkatnya sejak itu adalah Jenderal. Dalam pemilihan itu beliau
mengalahkan colon-colon lain. Ditinjau dari pendidikan kemiliteran, maka
calon-calon lain itu jauh lebih tinggi dari Jenderal Soedirman. Pemilihan yang
unik ini mencerminkan Zeitgeist atau "Semangat Zaman" waktu itu.
Yaitu semangat revolusi dimana-mana. Rakyat kita seakan-akan terserang demam.
Demam revolusi. Semangat perjuangan revolusioner di mana-mana berkobar.
Dikobarkan dalam rapat-rapat umum, yang diselenggarakan oleh kaum politisi kita
dari zaman Pergerakan, dan oleh alat-alat Pemerintahan yang baru dibentuk, dan
karenanya kurang sempurna. Di mana-mana rakyat kita giat merombak sistem
kolonialisme Hindia-Belanda dan sistem militerisme Jepang. Rakyat muak terhadap
kedua sistem kolonialisme dan militerisme masa Iampau itu. Rakyat tidak sabar
lagi, dan di dalam usaha merombak sistem lama itu, tidak jarang timbul gejolak
kekacauan. Serobot-menyerobot, daulat mendaulat dan malahan culik-menculik
adakalanya terjadi. Siapa yang menjalani sendiri situasi pada waktu itu,
benar-benar merasa adanya revolusi, adanya perubahan cepat kilat yang sedang
berlaku. Terutama di kalangan pemuda kita. Seringkali perubahan cepat itu tanpa
aturan "normal". Kadangkadang malahan "anarchistis" sama
sekali. Irosionalitas dan emosionalitas seringkali mengatasi rasionalitas dan
pikiran dingin. Memang itulah revolusi ! Eine Umwertung aller Werte.
Penjungkirbalikkan segala macam nilai. Suatu "razende inspirasi van de
historie". Suatu "ilham yang memandang daripada sejarah". Dan
"ilham sejarah" itu adalah "titik temu dari segala apa yang
merupakan kesadaran bangsa dengan apa yang hidup di bawah kesadaran sejarah
bangsa itu. "He ontmoetingspunt, van het vewuste en het onderbewuste in de
geschiedenis!" Pilihan atas Panglima Besar Soedirman jatuh dalam situasi
demikian. Banyak emosi di bawah sadar ikut menentukan pilihan itu. Banyak
pikiran rasionalistis tidak berkenan masuk dalam pertimbangan pilihan tersebut.
Memang revolusi mempunyai nilai-nilai sendiri. Apalagi revolusi yang berwatak
kerakyatan, seperti revolusi kita dulu itu. Setuju atau tidak setuju,
realitanya ialah bahwa nilai-nilai emosi magis, naluri kharismatis dan
getaran-mistis ikut menentukan jalannya revolusi kita pada waktu itu. Juga
dalam pemilihan Panglima Besar RI untuk pertama kalinya, nilai-nilai tersebut
ikut menentukan. Sudah barang tentu nilai-nilai rasional dan pikiran dingin
hidup Juga pada waktu itu. Namun yang lebih menonjol dan lebih kuat adalah
nilai-nilai emosi magis, naluri kharismatik dan getaran mistis tersebut di
atas. Dan itulah yang kemudian bermuara ke dalam keputusan mengangkat Soedirman
sebagai Panglima Besar. Yang terpilih bukan calon yang memiliki kadar
rasionalitas dan ketrampilan militer teknis yang tinggi, produk dari didikan
Barat di kota-kota besar, melainkan yang terpilih adalah seorang anak rakyat,
dibesarkan di desa, yang kemudian oleh gelombang revolusi terlempar ke atas,
dan merupakan tonggak kepercayaan mayoritas para panglima divisi dan para
komandan resimen yang hadir pada waktu itu. Susunan divisi serta resimen
tentara kita pada waktu itu jauh dari sempurna. Markas-markas pun belum
menentu, dan seringkali harus berpindah-pindah. Para Panglima Divisi serta para
komandan resimen pun tidak semuanya memiliki kepandaian kemiliteran-teknis yang
sempurna, seperti menurut ukuran-ukuran Barat. Kepandaian kemiliterannya boleh
diragukan, namun yang tidak dapat diragukan adalah semangat dan jiwa perjuangannya
membela Proklamasi, melawan kembalinya kolonialisme. Andaikata pilihan jabatan
Panglima Besar pada waktu itu diserahkan kepada Pemerintah Pusat, maka besar
sekali kemungkinan bahwa pilihan tidak akan jatuh kepada Soedirman. Dan memang,
Pemerintahan yang pada waktu itu kekuasaan eksekutifnya berada di tangan PM
Sjahrir menginginkan tokoh lain. Di antaranya Urip Sumohardjo, seorang tokoh
militer didikan Belanda, tetapi berjiwa patriotik. Juga dikemukakan Sri Sultan
Hamengku Buwono, yang pada waktu itu mendapat pangkat Jenderal Tituler. Dalam
rapat para Panglima Divisi dan Komandan Resimen disebut juga nama-nama Sjahrir
dan Amir Sjarifuddin, yang duduk sebagai Menteri Penerangan dalam Kabinet
Sjahrir. Rupanya pola menempatkan pimpinan ketentaraan di bawah kekuasaan
sipil-politis pada waktu itu hendak diterapkan oleh kaum politisi. Namun
mayoritas hadirin memilih Soedirman. Suatu hal yang unik dalam revolusi kita.
Panglima Besar yang pertama tidak diangkat oleh Pemerintah, melainkan dipilih
secara "demokratis" oleh para panglima divisi dan komandan resimen.
Itulah suasana revolusioner pada waktu itu. Itulah juga Zeit-geist-nya, atau
"semangat zaman" revolusioner yang penuh dengan jiwa kerakyatan. Elan
revolusioner yang meletus keluar ke atas permukaan masyarakat kita yang sedang
bergolak mencerminkan diri dalam hasil pemilihan tersebut. Elan revolusioner
tersebut mempercayakan kepemimpinan tentara kita kepada seorang pribadi
Soedirman. (Dr. H. Roeslan Abdulgani Peranan Panglima Besar Soedirman dalam
Revolusi Indonesia, Restu Agung, Jakarta, 2004, hal.32-35.)
Sumber: blogkita21.blogspot.co.id
Belum ada Komentar untuk "Fakta Menarik di Balik Pemilihan Unik Panglima Besar Jenderal Soedirman"
Posting Komentar